ISTANA KEPRESIDENAN DI INDONESIA (Part 2)

ISTANA KEPRESIDENAN DI INDONESIA (Part 2)

“Tahukah kawan klo presiden kita ternyata mempunyai 7 istana kepresidenan yang terletak diberbagai tempat di Indonesia. Memang tidak semuanya dipergunakan oleh presiden kita dan bahkan ada yang beralih fungsi jadi museum. Untuk lebih mengenalnya silahkan dibaca lebih lanjut.”

Baca artikel sebelumnya ISTANA KEPRESIDENAN DI INDONESIA (Part I)

ISTANA MERDEKA

Dari enam istana Presiden Republik Indonesia, hanya satu yang paling banyak disebut-sebut sebagai pusat pucuk pimpinan pemerintah di Indonesia: Istana Merdeka. Istana ini bukan yang tertua atau terbagus. Istana Negara lebih dahulu dibangun, malahan terletak di satu halaman dengan Istana Merdeka. Istana Bogor mempunyai sejarah yang lebih panjang serta bangunan yang lebih megah. Sedangkan Istana Yogyakarta mempunyai peranan yang paling besar dalam revolusi nasional Bangsa Indonesia ketika menegakkan kemerdekaan antara tahun 1945-1949.Namun demikian Istana Merdeka selalu diingat karena dikenal sebagai tempat kediaman resmi Presiden, serta kareana peranannya sebagai pusat upacara-upacara kenegaraan. Tetapi disamping itu Istana Merdeka agaknya mendapat tempat yang lebih khusus dalam hati rakyat Indonesia karena namanya Merdeka. Nama ini bukanlah sekedar nama, tetapi mempunyai perlambang sejarah kemenangan perjuangan bangsa. Namun itu juga berlatar belakang pada satu peristiwa bersejarah yang menandai berakhirnya penjajahan di bumi Indonesia sendiri yang berdaulat penuh di istana tersebut.

Peristiwa bersejarah bagi bangsa Indonesia dan Istana Merdeka itu terjadi pada tanggal 27 Desember 1949. Pada waktu yang bersamaan di Amsterdam, Jakarta dan Yogyakarta dilakukan serangkaian upacara penting: pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat oleh Kerajaan Belanda, Acara yangbermula di Troonzaal (Ruangan Takhta) di Amsterdam diakhiri dengan suatu upacara khusus di halaman depan Istana Merdeka Jakarta, yang waktu itu masih dinamakan Istana Gambir.

ISTANA NEGARA

Indonesia yang luas, dengan sejarah masa lampau yang panjang dan beragam, mempunyai ratusan istana yang tersebar di seluruh penjuru, yang dahulunya dihuni oleh raja-raja yang pernah berkuasa di daerah-daerah itu. Tetapi hanya ada 6 (enam) istana yang dapat disebut sebagai istana Presiden. Enam istana itulah yang menjadi saksi gejolak perjuangan bangsa Indonesia dari masa kemasa, masing masing dengan kisahnya yang bercorak tersendiri.

Istana Negara dan Istana Merdeka di Jakarta memegang peranan penting dalam proses pengambilan keputusan untuk rakyat Indonesia, baik di jaman Belanda, Inggris, Jepang maupun setelah kemerdekaan.

Istana Negara, yang usianya sekitar tiga perempat abad lebih tua dari istana Merdeka, mula-mula tempat kediaman pribadi seorang warganegara Belanda biasa. Sejak tahun 1816 gedung itu memainkan peranan sebagai istana para pembesar tertinggi Hindia Belanda, yakni setelah Komisaris Jenderal Belanda G.A.G.P. Baron van der Capellen memilih gedung itu sebagai tempat kediamannya.

Gedung Istana Negara semula terkenal dengan sebutan “Hotel Gubernur Jenderal” karena digunakan sebagai penginapan di samping sekaligus menampung sebagian dari kesibukan Sekretariat Umum pemerintah Belanda. Tetapi dalam perjalanan masa, bangunan itu dirasa kurang mencukupi, sehingga didirikanlah gedung baru di pekarangan belakangnya yang menghadap ke Koningsplein (sekarang Medan Merdeka). Gedung yang selesai pembangunannya tahun 1879 ini sekarang dikenal sebagai Istana Merdeka. Dengan hapusnya penjajahan dari bui Indonesia, kedua istana itupun menjadi milik bangsa Indonesia dan menjadi pusat upacara-upacara kenegaraan yang menyangkut kehidupan Negara Indonesia.

ISTANA TAMPAKSIRING

Nama Tampaksiring diambil dari dua buah kata bahasa Bali, yaitu tampak (yang bermakna ‘telapak ‘) dan siring (yang bermakna ‘miring’). Menurut sebuah legenda yang terekam pada daun lontar Usana Bali, nama itu berasal dari bekas telapak kaki seorang Raja yang bernama Mayadenawa. Raja ini pandai dan sakti, tetapi bersifat angkara murka. Ia menganggap dirinya dewa serta menyuruh rakyatnya menyembahnya. Sebagai akibat dari tabiat Mayadenawa itu, Batara Indra marah dan mengirimkan balatentaranya untuk menghacurkannya. Namun, Mayadenawa berlari masuk hutan. Agar para pengejarnya kehilangan jejak, ia berjalan dengan memiringkan telapak kakinya. Dengan begitu ia berharap agar para pengejarnya tidak mengenali bahwa jejak yang ditinggalkannya itu adalah jejak manusia, yaitu jejak Mayadenawa.

Usaha Mayadenawa gagal. Akhirnya ia ditangkap oleh para pengejarnya. Namun, sebelum itu, dengan sisa-sisa kesaktiannya ia berhasil menciptakan mata air beracun yang menyebabkan banyak kematian bagi para pengejarnya setelah mereka meminum air dari mata air ciptannya itu. Batara Indra pun menciptakan mata air yang lain sebagai penawar air beracun tersebut. Air Penawar racun itu diberi nama Tirta Empul (yang bermakna ‘airsuci’). Kawasan hutan yang dilalui Raja Mayadenawa denagn berjalan di atas kakinya yang dimiringkan itulah wilayah ini dikenal dengan nama Tampaksiring.

Menurut riwayatnya, disalah satu sudut kawasan Istana Tampaksiring, menghadap kolam Tirta Empul di kaki bukit, dulu pernah ada bangunan peristirahatan milik Kerajaan Gianyar. Di atas lahan itulah sekarang berdiri Wisma Merdeka , yaitu bagian dari Istana Tampaksiring yang pertama kali dibangun.

Istana Kepresidenan Tampaksiring berdiri atas prakarsa Presiden I Republik Indonesia, Soekarno, sehingga dapat dikatakan Istana Kepresidenan Tampaksiring merupakan satu-satunya istana yang dibangun pada masa pemerintahan Indonesia.

Pembangunan istana dimulai taun 1957 hingga tahun 1960. Namun, dalam rangka menyongsong kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN XIV (ASEAN Summit XIV) yang diselenggarakan pada tanggal 7-8 Oktober 2003, Istana Tampaksiring menambahkan bangunan baru berikut fasilitas – fasilitasnya, yaitu gedung untuk Konferensi dan untuk resepsi. Selain itu, istana juga merenovasi Balai Wantilan sebagai gedung pagelaran kesenian.

Istana Kepresidenan Tampaksiring dibangun secara bertahap. Arsiteknya ialah R.M Soedarsono. Yang pertama kali dibangun adalah Wisma Merdeka dan Wisma Yudhistira, yakni pada tahun 1957. Pembangunan berikutnya dilaksanakan tahun 1958, dan semua bangunan selesai pada tahun 1963. Selanjutnya, untuk kepentingan kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN XIV, yang diselenggarakan di Bali pada tanggal 7-8 Oktober 2003, Istana dibangun gedung baru untuk Konferensi beserta fasilitas-fasilitasnya dan merenovasi Balai Wantilan. Kini Tampaksiring juga memberikan kenyamanan kepada pengunjungnya (dalam rangka kepariwisataan) dengan membangun pintu masuk tersendiri yang dilengkapi dengan Candi Bentar, Koro Agung, serta Lapangan Parkir berikut Balai Bengongnya.

Sejak dirancangnya / direncanakan, pembangunan Istana Kepresidenan Tampaksiring difungsikan untuk tempat peristirahatan bagi Presiden Republik Indonesia beserta keluarga dan bagi tamu-tamu negara. Usai pembangunan istana ini, yang pertama berkunjung dan bermalam di istana adalah pemrakarsanya, yaitu Presiden Soekarno. Tamu Negara yang bertama kali menginap di istana ini ialah Raja Bhumibol Adulyadej dari Thailand, yang berkunjung ke Indonesia bersama permaisurinya, Ratu Sirikit (pada tahun 1957).

Menurut catatan, tamu-tamu negara yang pernah berkunjung ke Istana Kepresidenan Tampaksiring, antara lain adalah Presiden Ne Win dari Birma ( sekarang Myanmar), Presiden Tito dari Yugoslavia, Presiden Ho Chi Minh dari Vietnam, Perdana Menteri Nehru dari India, Perdana Menteri Khruchev dari Uni Soviet, Ratu Juliana dari Negeri Belanda, dan Kaisar Hirihito dari Jepang.
(Istana Kepresidenan RI , 2004, Sekretariat Presiden RI)

ISTANA YOGYAKARTA

Istana Kepresidenan Yogyakarta terletak di ujung selatan jalan Akhmad Yani, Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kotamadya Yogyakarta. Kompleks Istana yang berada pada ketinggian 120 meter dpl. ini dibangun di atas lahan seluas 43.585 M2. Terletak di pusat keramaian kota, jantung kota Yogyakarta, menghadap ke timur berseberangan dengan Museum Benteng Vredeburg, bekas benteng belanda.

Istana kepresidenan Yogyakarta dikenal juga dengan nama Gedung Agung atau Gedung Negara. Penamaan itu berkaitan dengan salah satu fungsi gedung utama istana, yaitu sebagai tempat penerimaan tamu-tamu agung. Istana ini merupakan salah satu istana dari keempat istana kepresidenan lainnya, yang memiliki peran amat penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan dan kehidupan bangsa Indonesia.

Secara umum, proses pengembangan bagian-bagian Istana Kepresidenan Yogyakarta tidak banyak berubah, baik dari gedung induknya: Gedung Agung, juga wisma -wismanya seperti Wisma Negara, Wisma Indraphrasta, Wisma Sawojajar, Wisma Bumiretawu, dan Wisma Saptapratala.

Selain keempat wisma tersebut, sejak 20 September 1995, kompleks Seni Sono seluas 5.600 meter persegi yang terletak di sebelah selatan, yang semula milik Departemen Penerangan, kini menjadi bagian dari Istana Kepresidenan Yogyakarta. Cukup lumayan dilakukan penataan ulang terhadap istana ini; contohnya Ruang Kesenian direnovasi, kursi-kursi dan lampu hiasnya diganti. Dari segi perabot / perlengkapan tampak kesesuaian antara fungsi kamar / ruang dengan perabotan / peralatan yang mengisinya, bahkan termasuk benda – benda seni bernilai tinggi yang ada di dalamnya.

Sejak didirikan dua abad yang lalu hingga kini, Gedung Induk kompleks Istana Kepresidenan Yogyakarta tidak pernah berubah; bentuknya sama seperti ketika selesai dibangun pada tahun 1869. Ruangan Induknya disebut Ruang Garuda dan berfungsi sebagai ruang resmi penyambutan tamu negara atau tamu agung yang lain. Di ruangan ini pulalah kabinet Republik Indonesia dilantik tatkala ibu kota negara pindah ke Yogyakarta. Pada dinding ruangan yang bersejarah ini tergantung gambar-gambar pahlawan nasional, di antaranya adalah gambar Pangeran Diponegoro, R.A. Kartini, Dokter Wahidin Soedirohusodo, dan Tengku Cik Di Tiro.

Di sisi selatan Gedung Induk terdapat Ruangan Tidur Presiden beserta keluarga, sedangkan di sisi utara terdapat kamar tidur yang disediakan bagi Wakil Presiden beserta keluarga, dan bagi tamu negara atau tamu agung yang lain beserta keluarga.

Di bagian depan kanan Gedung Induk terdapat ruangan yang diberi nama Ruang Soerdiman untuk mengenang perjuangan Panglima Besar Soedirman dalam memimpin gerilya melawan Belanda. Di ruangan inilah dulu Panglima Besar Soedirman mohon diri kepada Presiden Soekarno, untuk meninggalkan kota dalam rangka memimpin perang gerilya melawan Belanda. Di bagian kiri gedung utama terdapat ruangan yang diberi nama Ruang Diponegoro, untuk mengenang perjuangan Pangeran Diponegoro melawan Belanda. Dalam ruangan ini tampak pula lukisan / foto beliau sedang berkuda.

Dari Ruang Garuda ke arah belakang terdapat ruangan besar yang lain, yaitu Ruangan Jamuan Makan, tempat jamuan makan bagi tamu negara atau tamu agung yang lain. Di belakang ruangan jamuan makan terdapat ruangan luas, yang berfungsi sebagai Ruangan Pertunjukan Kesenian.

Masih tentang bangunan-bangunan yang ada di Istana Yoyakarta ini, bangunan lain adalah Wisma Negara; wisma ini dibangun pada tahun 1980. Wisma ini dimaksudkan untuk para menteri dan rombongan tamu negara. Bangunan ini bertingkat dua dan mempunyai 19 kamar. Setiap kamarnya dihiasi dengan lukisan serta benda seni lain yang sesuai dengan fungsi-fungsi kamarnya, terutama untuk beristirahat.

Selain Wisma Negara, terdapat Wisma Indraphrasta. Wisma ini merupakan wujud bangunan asli kantor Asisten Residen Belanda, penggagas bangunan yang kini menjadi istana ini. Di kiri dan kanan belakang bangunan utama, di dekat Ruang Kesenian, adalah Wisma Sawojajar dan Wisma Bumiretawu. Wisma Sawojajar,di sebelah utara, disediakan bagi petugas atau rombongan staf Presiden atau tamu negara, sedangkan Wisma Bumiretawu disediakan bagi ajudan serta dokter pribadi Presiden atau ajudan dan dokter pribadi tamu negara. Wisma Saptapratala terletak di sebelah selatan, berseberangan dengan Wisma Bumiretawu . Wisma ini disediakan bagi petugas-petugas dan para anggota rombongan presiden atau tamu negara.

Kompleks Seni Sono mulai dipugar tahun 1995 dan terdiri dari gedung auditorium, gedung tempat penyimpanan koleksi benda-benda seni, gedung pameran dan perkantoran. Auditorium ini semula adalah gedung Seni Sono yang dibangun pada tahun 1915 dan diperuntukkan sebagai tempat pertunjukkan kesenian terpilih yang berkaitan dengan acara kenegaraan. Gedung yang diperuntukkan sebagai tempat penyimpanan koleksi benda-benda seni semula adalah bangunan kuno yang dibangun Belanda pada tahun 1911 dan terakhir digunakan sebagai kantor PWI / Antara. Bangunan yang diperuntukkan gedung pameran dan perkantoran semula adalah bangunan Kantor Departemen Penerangan.

Biasanya, Pintu Gerbang Utama Kompleks Istana Yogyakarta “dijaga” oleh dua buah patung besar Dwarapala yang juga disebut Gupala, masing-masing setinggi dua meter. Kedua patung ini berasal dari salah satu tempat di sebelah selatan Candi Kalasan. Di halaman istana, di depan Gedung Induk, tampak sebuah monumen yang terbuat dari batu andesit setinggi 3.5 meter; namanya Dagoba, yang berasal dari Desa Cupuwatu, di dekat Candi Prambanan. Orang Yogyakarta menyebutnya Tugu Lilin karena Tampak seperti lilin yang senantiasa menyala, melambangkan kerukunan beragama, yaitu agama Hindu Ciwa dan agama Budha: agama Hindu Ciwa dilambangkan dengan Lingga, yang menopang stupa sebagai lambang agama Budha.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s