[Cold War Story] Blackbird VS Foxbat : Duel Jet Tempur US vs Uni Sovyet di Atas Kam***a

[Cold War Story] Blackbird VS Foxbat: Duel Sengit di Atas Kam***a

“Kolonel (Purn) Richard Graham mengungkap kisah menegangkan ketika ia dengan SR-71 Blackbird dibuntuti oleh rivalnya MiG-25 Foxbat

sr-71_blackbird

Satu hari di bulan Desember 1986, langit begitu cerah di atas pulau Okinawa Jepang. Bagi saya yang penerbang, inilah hari terbaik untuk menerbangkan SR-71 dengan sejawat RSO (Reconnaissance System Officer) Don Emmons yang duduk di bangku belakang. Apalagi yang harus ditunggu ?

Seperti dituturkannya kepada Air International (Maret 2008), saat itu kami dalam misi khusus pengintaian (reconnaissance) dan mengumpulkan data intelijen di wilayah fasilitas nuklir dan sejumlah pangkalan utama kapal selam nuklir Rusia. Lokasi yang akan diendus berada di ujung selatan Semenanjung Kam***a, dekat kota Petropavlovsk yang selanjutnya disingkat Petro.

Jarak dari Okinawa ke Petro sekitar 2.400 mil, yang mengharuskan sekali pengisian bahan bakar di udara di atas Samudera Pasifik untuk sekali jalan. Selain langit begitu indah, 3 pesawat tanker KC-135Q juga sudah sesuai jadwal. Navigator tanker di pesawat leader sudah mengatur rencana pertemuan, saat saya lihat mereka di jam 12 dengan jarak sejauh 3 mil.
Saya bawa SR-71 bermanuver untuk memasuki posisi terhubung dengan tanker. Operator boom (alat untuk “menyusu”) memberi lampu hijau bahwa dia sudah siap menuju ke posisi pengisian. Dengan perkahan saya bawa pesawat ke posisi yang ditentukan hingga boom nozzle tepat di depan jendela depan kokpit, sekitar 3 kaki di depan saya.

Pesawat saya buat sestabil mungkin dengan mengatur kecepatan serasi dengan pesawat pengisi. Saya bisa lihat operator boom merilis belalai bahan bakar ke SR-71.

Begitu boom tersambung, saat bersamaan pula kedua pesawat bisa saling tersambung melalui system boom-interphone. “ You’re tanking gas,” ujar operator boom melalui radio komunikasi. Secara pasti, 80.000 pon bahan bakar JP-7 mengalir ke tangki SR-71. Begitu proses selesai di radio saya sampaikan,”See you on the return leg.” Saya perlu berbaik-baik dengan mereka karena masih butuh sekali lagi air refueling dalam perjalan pulang nantinya.

Saya tekan tombol disconnect di stik, lalu terbang menjauh dari tanker dan mulai membawa pesawat ke ketinggian 71.000 kaki. Setelah saya dorong throttles untuk mencapai performa terbaiknya yang kami sebut military power, selanjutnya mengaktifkan full afterburner untuk menghasilkan daya dorong hingga 68.000 ibs. Selama menanjak dan berakselerasi, saya dan Don serta para “Habu” (julukan untuk kru SR-71 yang diambil dari nama ular Trimeresurus flavoviridis) dibuat jadi sangat repot. Mulai dari mengawasi parameter inlet mesin, memastikan mesin J-58 Pratt & Whitney bekerja dengan baik, dan beberapa hal lainnya sekaligus menerbangkan Blackbird. Semua pada saat bersamaan.

Mig 25 Foxbat

60.000 kaki
Begitu kamu berada di ketinggian 60.000 kaki, ruang udara seperti jadi milikmu. Sesuai rencana, pesawat terbang pada rute yang telah diplot. Mission planner bekerja sangat apik dengan memetakan jalur darat yang akan diintip secara cermat. Ketelitiannya diperlukan agar sensor canggih yang dibawa pesawat bekerja efektif mengumpulkan data yang dibutuhkan Pentagon. Karena jika Anda salah menentukan dimana akan melakukannya, hasilnya jelas sangat mubazir bagi misi intelijen semahal dan seberesiko ini.

Penerbangan direkam setiap 3 detik secara elektronik menggunakan peralatan di dalam pesawat. Jika melenceng dari black line (istilah ground track di peta), secara otomatis akan dibatalkan. Dengan karakternya yang rumit dan misi berbahaya, SR-71 bukanlah pesawat yang bisa diterbangkan oleh pilot jagoan (hot shot) yang mau “ugal-ugalan”. Anda harus memiliki sikap mental dan kedisiplinan tinggi untuk terbang secara presisi pada jalurnya serta ketinggian tertentu sesuai jumlah bahan bakar. Jika terbang terlalu tinggi anda tidak akan bisa membuat putaran kedua. Sebaliknya jika terlalu rendah, bahan bakar tidak akan cukup untuk menyelasaikan misi.

Kami berdua mempertahankan ketinggian di 71.000 kaki, ketinggian normal untuk terbang jelajah dengan kecepatan Mach 3. Pada ketinggian ini langit sangat cerah dengan jarak pandang lebih 300 mil. Samudera Pasifik bersinar biru di bawah kami. Pesawat tepat di jalurnya menuju Semenanjung Kam***a. Setelah 20 menit terbang dengan Mach 3, panas permukaan badan pesawat sudah mencapai sekitar 500-600 derajat Fahrenheit. Bagi SR-71 kondisi ini dengan kata lain bisa dikatakan pesawat dalam kondisi sangat oke untuk diajak meneruskan misi.

Semua serba mungkin

Ketika kami mulai memasuki wilayah sensitif, saya dan Don jadi lebih konsentrasi dan meningkatkan kewaspadaan. Di wilayah sensitif seperti ini, segala sesuatu di luar perkiraan bisa saja terjadi. Bisa saja dengan tiba-tiba pesawat pencegat Rusia sudah berada kami, atau tembakan rudal permukaan ke udara (SAM). You just never know.

Salah satu yang kami monitor dengan spesifik adalah frekwensi radio HF untuk mendengarkn informasi penting. Jika system reconnaissance nasional lainnya merasa SR-71 keluar dari black line, kami akan menerima pesan peringatan melalui kode rahasia di HF yang berisi perintah untuk memeriksa ulang system navigasi.

Terbang di wilayah udara sensitif mengharuskan kami mengeset pesawat pada batas tertinggi kemampuannya, yang kami sebut tactical limits. Dalam kondisi ini, pesawat harus bisa sewaktu-waktu diajak “berlaga” jika dibutuhkan. Termasuk jika menemukan pesawat biasa yang terbang di wilayah berbahaya seperti ini, maka pilot diizinkan menggunakan tactical limits. Hanya saja resikonya akan mengurangi tingkat keselamatan serta menjadikan SR-71 terekspos untuk kemungkinan lainnya yang tidak diduga.
Ketika kami memasuki wilayah udara Soviet, di ketinggian 76.000 kaki, saya mengalihkan pandangan ke kiri mencoba menembus batas pandangan.

Ketika itulah, alangkah kagetnya saya melihat 3 jet tempur Soviet terbang searah di bawah kami. Sangat tidak mungkin melihat keberadaan ketiga pesawat Soviet ini dari ketinggian kami terbang, jika tidak ada jejak asap (contrails) yang memungkinkannya terlihat karena cerahnya langit.

Saya mencoba menahan diri untuk tidak mengatakannya kepada Don. Saya biarkan ia tahu sendiri keberadaan pesawat Soviet, bukan menginformasikan berdasarkan apa yang saya lihat. Kokpit Don dilengkapi seabrek peralatan elektronik pengacak canggih yang tinggal diaktifkan jika kami terancam.

SR-71 mulai mendekati pesawat Soviet dengan kecepatan Mach 3. Ketika jarak kami terpaut 100 mil, tiba-tiba jet tempur Soviet bermanuver dengan posisi sekarang langsung mengarah ke SR-71. Saya sebenarnya tidak terlalu kaget. Karena begitu saya tahu jejak asap mereka hilang dari pandangan, saat itu saya tahu bahwa mereka mulai mengaktifkan afterburner dan bersiap terbang supersonic. Pastinya itu untuk mengintersep kami.

Sepertinya saat itu mereka sudah terbang dengan kecepatan Mach 3 atau lebih, yang dalam waktu kurang dua menit pasti akan menghampiri kami. Saya sangat khawatir, karena saya tahu karakter pilot-pilot Soviet yang bisa jadi akan menembak kami atau mungkin sengaja memancing emosi kami untuk head on dengan mereka.

Tanpa adanya jejak asap sekarang, sulit bagi saya untuk mendeteksi keberadaan mereka. Tapi saya yakin mereka sedang memburu kami dan tengah menyiapkan sebuah aksi. Meski dalam kondisi terancam, saya tetap membawa SR-71 terbang pada black line dan meminta Don mengaktifkan view sight untuk mengetahui posisi pesawat Soviet tersebut.

Sesaat saya berpikir mereka pasti akan lewat di bawah kami sebentar lagi, Don tiba-tiba buka suara di radio, “Itu yang nomor 1…. Di sana, nomor 2…. Di sana, nomor 3.” Don bilang bahwa ketiga jet tempur Soviet bermanuver dengan cara berpencar ke tiga arah. Semaksimal mungkin saya berpikir untuk berusaha menghindari terjadinya petaka bagi kami, meski dalam situasi seperti ini Anda tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi.

Selintas saya teringat petaka yang menimpa Korean Air Line 007 pada 1 September 1983. Pastilah para penumpang (dan mungkin kru di kokpit) tidak pernah merasa terancam sebelum akhirnya jet tempur Soviet itu menembak B747 yang mereka tumpangi. Kala itu sang pilot diduga kurang waspada ketika terbang di atas wilayah sensitif Kam***a.

Selintas saya juga teringat kejadian pada 6 September 1976, ketika pilot Soviet Letnan Viktor Belenko mendaratkan MiG-25 Foxbat di Jepang. Tak lama kemudian, Belenko membeberkan kisah seorang pilot Soviet yang frustasi berusaha keras menembak jatuh sebuah SR-71.

Kata Belenko, “Pesawat intai Amerika, SR-71, sedang berputar-putar di atas pantai, berusaha tetap berada di luar wilayah udara Soviet sambil memotret ratusan mil daratan dengan kamera samping. Aksi SR-71 ini tak pelak memancing Soviet untuk mengirim MiG-25, meski Foxbat tidak akan bisa mencapai ketinggian SR-71.

Soviet memiliki master plan untuk mengintersep SR-71 dengan cara menempatkan satu MiG-25 di depan SR-71 dan satu lagi di bawah. Begitu SR-71 melewati mereka, saatnya melepaskan rudal. Namun rencana ini tidak pernah dilaksanakan. Pasalnya komputer Soviet masih sangat primitif dan memang tidak ada cara untuk menuntaskan misi seperti ini.

Kenapa, karena pertama, SR-71 terbang terlalu tinggi dan terlalu cepat. MiG-25 jelas tidak bisa mencapai kemampuan ini, apalagi untuk “menangkap tangan” SR-71. Kedua, rudal yang disiapkan jadi tidak berguna pada ketinggian di atas 27.000 m (88.500 kaki). Kalaupun kami (MiG-25) mampu mengejar SR-71, rudal-rudal yang ada tidak akan sanggup “menyentuh” SR-71. Andaipun rudal itu ditembakkan, sistem pemandunya tidak akan mampu mengatur secara cepat untuk mencapai kecepatan tinggi.”

Kisah-kisah ini selintas menyergap benak saya. Ada rasa khawatir namun juga keyakinan berdasar penuturan Belenko. Bahwa ketiga MiG-25 tidak akan bisa mengintersep kami, bahkan menembak. Meski begitu, saya tetap waspada terhadap segala kemungkinan yang bisa terjadi. Kami pun terus terbang melanjutkan misi ke Petro setelah baying-bayang ketiga MiG-25 menghilang. Sepertinya mereka, persis cerita Belenko, putus asa membuntuti SR-71. Di Petro, kami kembali menjalankan misi mengumpulkan data intelijen, lalu kembali ke black line untuk terbang ke Samudera Pasifik. Di sini kami sudah janjian dengan pesawat tanker untuk kembali air refueling dan terbang ke Okinawa.

Beberapa hari kemudian, kami diinformasikan bahwa pesawat yang mencoba mengintersep waktu itu adalah MiG-25. Saya kaget, namun sekaligus heran, bagaimana mungkin pilot Soviet itu gagal. Saya juga kagum, bagaimana bisa mereka tahu kami ada di atas mereka namun mereka tidak mampu melakukan apapun terhadap kami. Bagi saya, sekali lagi terbukti bahwa SR-71 Blackbird adalah pesawat tak tertandingi.

Wow Burung hitam memangsa Kelelawar Rubah…. kenyanngg…

From : Angkasa


Semua serba mungkin

Ketika kami mulai memasuki wilayah sensitif, saya dan Don jadi lebih konsentrasi dan meningkatkan kewaspadaan. Di wilayah sensitif seperti ini, segala sesuatu di luar perkiraan bisa saja terjadi. Bisa saja dengan tiba-tiba pesawat pencegat Rusia sudah berada kami, atau tembakan rudal permukaan ke udara (SAM). You just never know.

Salah satu yang kami monitor dengan spesifik adalah frekwensi radio HF untuk mendengarkn informasi penting. Jika system reconnaissance nasional lainnya merasa SR-71 keluar dari black line, kami akan menerima pesan peringatan melalui kode rahasia di HF yang berisi perintah untuk memeriksa ulang system navigasi.

Terbang di wilayah udara sensitif mengharuskan kami mengeset pesawat pada batas tertinggi kemampuannya, yang kami sebut tactical limits. Dalam kondisi ini, pesawat harus bisa sewaktu-waktu diajak “berlaga” jika dibutuhkan. Termasuk jika menemukan pesawat biasa yang terbang di wilayah berbahaya seperti ini, maka pilot diizinkan menggunakan tactical limits. Hanya saja resikonya akan mengurangi tingkat keselamatan serta menjadikan SR-71 terekspos untuk kemungkinan lainnya yang tidak diduga.
Ketika kami memasuki wilayah udara Soviet, di ketinggian 76.000 kaki, saya mengalihkan pandangan ke kiri mencoba menembus batas pandangan.

Ketika itulah, alangkah kagetnya saya melihat 3 jet tempur Soviet terbang searah di bawah kami. Sangat tidak mungkin melihat keberadaan ketiga pesawat Soviet ini dari ketinggian kami terbang, jika tidak ada jejak asap (contrails) yang memungkinkannya terlihat karena cerahnya langit.

Saya mencoba menahan diri untuk tidak mengatakannya kepada Don. Saya biarkan ia tahu sendiri keberadaan pesawat Soviet, bukan menginformasikan berdasarkan apa yang saya lihat. Kokpit Don dilengkapi seabrek peralatan elektronik pengacak canggih yang tinggal diaktifkan jika kami terancam.

SR-71 mulai mendekati pesawat Soviet dengan kecepatan Mach 3. Ketika jarak kami terpaut 100 mil, tiba-tiba jet tempur Soviet bermanuver dengan posisi sekarang langsung mengarah ke SR-71. Saya sebenarnya tidak terlalu kaget. Karena begitu saya tahu jejak asap mereka hilang dari pandangan, saat itu saya tahu bahwa mereka mulai mengaktifkan afterburner dan bersiap terbang supersonic. Pastinya itu untuk mengintersep kami.

Sepertinya saat itu mereka sudah terbang dengan kecepatan Mach 3 atau lebih, yang dalam waktu kurang dua menit pasti akan menghampiri kami. Saya sangat khawatir, karena saya tahu karakter pilot-pilot Soviet yang bisa jadi akan menembak kami atau mungkin sengaja memancing emosi kami untuk head on dengan mereka.

Tanpa adanya jejak asap sekarang, sulit bagi saya untuk mendeteksi keberadaan mereka. Tapi saya yakin mereka sedang memburu kami dan tengah menyiapkan sebuah aksi. Meski dalam kondisi terancam, saya tetap membawa SR-71 terbang pada black line dan meminta Don mengaktifkan view sight untuk mengetahui posisi pesawat Soviet tersebut.

Sesaat saya berpikir mereka pasti akan lewat di bawah kami sebentar lagi, Don tiba-tiba buka suara di radio, “Itu yang nomor 1…. Di sana, nomor 2…. Di sana, nomor 3.” Don bilang bahwa ketiga jet tempur Soviet bermanuver dengan cara berpencar ke tiga arah. Semaksimal mungkin saya berpikir untuk berusaha menghindari terjadinya petaka bagi kami, meski dalam situasi seperti ini Anda tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi.

Selintas saya teringat petaka yang menimpa Korean Air Line 007 pada 1 September 1983. Pastilah para penumpang (dan mungkin kru di kokpit) tidak pernah merasa terancam sebelum akhirnya jet tempur Soviet itu menembak B747 yang mereka tumpangi. Kala itu sang pilot diduga kurang waspada ketika terbang di atas wilayah sensitif Kam***a.

Selintas saya juga teringat kejadian pada 6 September 1976, ketika pilot Soviet Letnan Viktor Belenko mendaratkan MiG-25 Foxbat di Jepang. Tak lama kemudian, Belenko membeberkan kisah seorang pilot Soviet yang frustasi berusaha keras menembak jatuh sebuah SR-71.

Kata Belenko, “Pesawat intai Amerika, SR-71, sedang berputar-putar di atas pantai, berusaha tetap berada di luar wilayah udara Soviet sambil memotret ratusan mil daratan dengan kamera samping. Aksi SR-71 ini tak pelak memancing Soviet untuk mengirim MiG-25, meski Foxbat tidak akan bisa mencapai ketinggian SR-71.

Soviet memiliki master plan untuk mengintersep SR-71 dengan cara menempatkan satu MiG-25 di depan SR-71 dan satu lagi di bawah. Begitu SR-71 melewati mereka, saatnya melepaskan rudal. Namun rencana ini tidak pernah dilaksanakan. Pasalnya komputer Soviet masih sangat primitif dan memang tidak ada cara untuk menuntaskan misi seperti ini.

Kenapa, karena pertama, SR-71 terbang terlalu tinggi dan terlalu cepat. MiG-25 jelas tidak bisa mencapai kemampuan ini, apalagi untuk “menangkap tangan” SR-71. Kedua, rudal yang disiapkan jadi tidak berguna pada ketinggian di atas 27.000 m (88.500 kaki). Kalaupun kami (MiG-25) mampu mengejar SR-71, rudal-rudal yang ada tidak akan sanggup “menyentuh” SR-71. Andaipun rudal itu ditembakkan, sistem pemandunya tidak akan mampu mengatur secara cepat untuk mencapai kecepatan tinggi.”

Kisah-kisah ini selintas menyergap benak saya. Ada rasa khawatir namun juga keyakinan berdasar penuturan Belenko. Bahwa ketiga MiG-25 tidak akan bisa mengintersep kami, bahkan menembak. Meski begitu, saya tetap waspada terhadap segala kemungkinan yang bisa terjadi. Kami pun terus terbang melanjutkan misi ke Petro setelah baying-bayang ketiga MiG-25 menghilang. Sepertinya mereka, persis cerita Belenko, putus asa membuntuti SR-71. Di Petro, kami kembali menjalankan misi mengumpulkan data intelijen, lalu kembali ke black line untuk terbang ke Samudera Pasifik. Di sini kami sudah janjian dengan pesawat tanker untuk kembali air refueling dan terbang ke Okinawa.

Beberapa hari kemudian, kami diinformasikan bahwa pesawat yang mencoba mengintersep waktu itu adalah MiG-25. Saya kaget, namun sekaligus heran, bagaimana mungkin pilot Soviet itu gagal. Saya juga kagum, bagaimana bisa mereka tahu kami ada di atas mereka namun mereka tidak mampu melakukan apapun terhadap kami. Bagi saya, sekali lagi terbukti bahwa SR-71 Blackbird adalah pesawat tak tertandingi.

Wow Burung hitam memangsa Kelelawar Rubah…. kenyanngg…

From : Angkasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s