Saling Tuding Ala Mafia Di Lingkar PERTAMINA

(sebuah artikel lama taun 2004……….)

Saling Tuding Ala Mafia

Ada bagusnya juga pemerintah mengangkat Widya Purnama menjadi Direktur Utama PT Pertamina. Paling tidak, setelah pria kelahiran Pare-pare itu menjadi bos di BUMN berlogo kuda laut kembar tersebut, sejumlah misteri soal mafia perminyakan mulai terurai. Hebatnya lagi, mafia yang mulai terungkap itu adalah mereka yang bermain di sektor hulu, bukan sektor hilir seperti yang sudah sering terdengar sebelumnya. Padahal, Widya sendiri belum melakukan tindakan apa pun terhadap para mafia minyak itu tadi.

Namun, naiknya Widya ke tampuk jabatan tertinggi di Pertamina telah membuat sebuah tatanan bergejolak. Sebagai orang baru di dunia minyak, gebrakan Wi-dya telah membuat para mitra Pertamina yang acap dituding sebagai bagian dari mafia perminyakan itu bak cacing kepanasan. Satu sama lain saling menuding lawan masing-masing sebagai mafioso, sambil mengaku diri paling bersih. Motifnya cenderung sederhana. Sepertinya, mereka ingin agar posisinya sebagai mitra Pertamina tetap bertahan, sekaligus berharap agar lawan-lawannya kemudian tersingkir.

Kepada TRUST, salah seorang dari mitra Pertamina itu pun kemudian berkisah, ada sebuah kelompok mafia yang sekarang menjadi penguasa di BUMN migas itu. Kelompok itu, kata si sumber, adalah kelompok Finezza. Nama ini diambil dari nama perusahaan yang bergerak dalam bisnis trading minyak. Pemilik Finezza adalah Suganda Kurnia yang juga seorang pemain di pasar modal.

Nama Finezza mulai mencuat awal tahun 2004. Kala itu mereka berhasil menyalurkan 900 ribu barel minyak dari ladang Azeri milik Beyond Petroleum di Azer-baijan untuk Pertamina. Sontak, berita tersebut membuat kaget sejumlah trader mancanegara. Di mata para trader itu, Pertamina telah berbuat kurang masuk akal. Soalnya, untuk mengirim minyak tersebut dari kawasan eks Uni Soviet ke Indonesia diperlukan dua kali pengapalan. Jelas, itu membuat harga beli minyak Azeri menjadi mahal. Menurut para trader tersebut, kalau Pertamina membeli minyak itu dari Afrika Barat, pasti biayanya akan jauh lebih murah.

Finezza mengajukan diri terlibat dalam pengadaan minyak itu pada saat-saat terakhir pelaksanaan tender. Makanya, aroma kecurigaan pun kemudian menyeruak. Ada dugaan, Finezza telah main mata dengan Pertamina. Seorang petinggi di perusahaan cap kuda laut itu pun mengaku punya kecurigaan yang sama.

Semakin aneh lagi karena Finezza ini merupakan pemain baru dalam bisnis minyak. Sumber-sumber itu lalu mengatakan, berjayanya Finezza dalam bisnisnya dengan Pertamina disebabkan kedekatan bos perusahaan itu dengan salah seorang komisaris si kuda laut. Syahdan, antara si bos dan sang komisaris sudah terjalin kerja sama sejak lama. Dulu, di tempat kerja sang komisaris sebelumnya, si bos ini sudah sering menjadi penghubung antara komisaris dan sejumlah konglomerat yang berurusan dengannya.

Dua orang itu juga komisaris dan sang bos yang kemudian dituding menjadi sponsor bagi naiknya Hanung Budya mantan Kepala Humas Pertamina menjadi Presiden Direktur Pertamina Energy Trading (Petral) Ltd., anak perusahaan Pertamina yang bergerak dalam bisnis trading minyak dan berbasis di Singapura. Hanung adalah teman lama sang komisaris. Jadi, sang komisaris dan bos Finezza ini ingin, naiknya Hanung akan memudahkan bisnis Finezza di kemudian hari.

Benarkah demikian? Arie Soemarno, Direktur Pemasaran Niaga Pertamina, tegas-tegas membantahnya. Menurut mantan Presiden Direktur Petral yang digantikan Hanung itu, justru dialah yang merekomendasikan agar Hanung menggantikan posisinya. Arie melihat, Hanung adalah seorang profesional muda Pertamina yang berbakat. Ia jago dalam pemasaran. Sikapnya juga bagus, ujarnya.

Namun, Arie yang sudah malang melintang dalam bisnis trading itu juga tak bisa menjelaskan ihwal track record Finezza. Bahkan, Arie mengaku belum pernah berhubungan dengan orang-orang Finezza. Ketika menjalin kerja sama dengan Pertamina, orang-orang Finezza memang dikabarkan lebih dekat dengan Dwi Kushartoyo, Deputi Direktur Pengolahan Pertamina. Dwi ini pula yang disebut-sebut sebagai penentu dari kemenangan Finezza dalam bisnis minyak Azeri itu tadi. Tender minyak Azeri memang langsung dilakukan Pertamina, bukan oleh Petral.

Namun Dwi juga membantah pula tudingan itu. Menurutnya, segala urusan tender dilakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku di Pertamina. Jadi, katanya, tidak ada kolusi dalam proses tersebut. Memang, Dwi mengakui, harga minyak Azeri terbilang mahal. Namun, ujarnya, minyak jenis itu sedang dibutuhkan oleh Pertamina. Lantas, benarkah ia yang menentukan kemenangan Finezza waktu itu? Tidak sama sekali. Apalah saya ini. Saya hanya manusia biasa dengan segala keterbatasan, katanya.

ASING DAN ORANG DALAM
Adalah hak Dwi untuk membantah tudingan yang ditujukan kepadanya. Namun, cerita tentang mafia Pertamina tidak berhenti sampai di sana. Sebab, ada lagi kelompok lain yang ditengarai memiliki pengaruh yang lebih kuat dalam tubuh BUMN tersebut. Kelompok ini digawangi oleh orang-orang lama Pertamina. Di sini, bergabung seorang bekas petinggi Petral dan seorang bekas pejabat trading Pertamina. Bersama mereka berdua, ada pula seorang pejabat Petral yang masih aktif dan pejabat Pertamina yang sekarang mengurusi pembelian minyak mentah.

Nah, kelompok ini bekerja sama dengan salah sebuah trader terpenting Pertamina, Vitol. Perusahaan asal Rotterdam, Belanda, ini memiliki pendapatan sekitar US$ 47 miliar dalam setahun. Beberapa pelaku bisnis minyak yang dihubungi TRUST menyatakan, anemer minyak kelas dunia ini hampir tak pernah absen mendapatkan proyek dari Petral setiap bulan. Disebut-sebut, Vitol mendapat jatah mengirim minyak mentah asal Nigeria, dengan harga mahal, dalam jumlah besar selama dua tahun terakhir ini.

Tidak hanya itu. Dari Pertamina, Vitol juga acap mendapat proyek ekspor minyak mentah. Pertamina memang mengekspor sejumlah minyak mentah yang tak bisa diolah oleh kilang dalam negeri. Ada juga beberapa produk yang dihasilkan kilang Pertamina yang diekspor karena produksinya sudah melebihi kebutuhan dalam negeri. Produk yang diekspor itu meliputi low sulfur waxy residue (LSWR), Naphtha, dan Green Coke.

Nah, belakangan, pada bulan Juli lalu, Vitol juga memenangi tender ekspor kondensat dari Lapangan Senipah, Kalimantan Timur, sebanyak 250-275 ribu barel per bulan dengan harga Indonesia crude price (ICP) plus premium US$ 1. Sebelumnya, pada periode Februari-Juli 2004, Vitol juga berjaya dalam tender di Lapangan Senipah yang dimenanginya dengan premium US$ 1,5-US$ 2 per barel.

Namun, Arie Soemarno lalu menegaskan, kemenangan Vitol adalah hal yang wajar. Menurutnya, Vitol adalah makelar minyak paling besar di Singapura. Perusahaan ini biasa menangani penjualan minyak hingga 3 juta barel per hari. Ia lalu menegaskan, terlalu spekulatif menuding perusahaan besar itu terlibat aksi mafioso. Apalagi, ujarnya, setiap langkah Pertamina dan mitra-mitranya tak lepas dari intaian para auditor, baik dari BPK maupun BPKP. Saya berani bersumpah. Tak ada kolusi yang melibatkan Vitol, katanya.

Lagi pula, kata Arie, Petral tidak hanya berhubungan dengan Vitol. Masih banyak trader besar lain yang bekerja sama dengan Pertamina atau Petral. Sebut saja nama-nama seperti Mitsui, Mitsubishi, atau Exxon Trading.

ADA PENYELUNDUP, ADA PERANTARA
Mungkin Vitol memang bersih. Namun, toh itu juga tidak menghentikan tudingan sejumlah pelaku bisnis minyak di Tanah Air yang begitu yakin bahwa ada kekuatan asing dalam aksi mafioso di bisnis perminyakan ini. Malah, seorang importir minyak lokal bercerita, ada perusahaan yang berbasis di Singapura yang bahkan terlibat dalam aksi penyelundupan minyak dari Indonesia.

Perusahaan itu memiliki nama yang berbau khas oriental. Dalam praktiknya, perusahaan ini acap menadah minyak yang diselundupkan lewat kawasan laut Indonesia. Dengan harga lokal, sekitar Rp 1.500 per liter, perusahaan tersebut membeli minyak haram itu tadi. Jumlah minyak yang diselundupkan luar biasa besarnya, mencapai 2,4 juta barel (1 barel sama dengan 159 liter) per bulan.

Gilanya lagi, minyak itu kemudian diekspor kembali ke Indonesia dengan harga internasional. Tentu saja, ekspor itu dilakukan melalui Petral. Padahal, harga internasional minyak itu mencapai US$ 53 per barel. Jadi, bisa dibayangkan, betapa telaknya negara dan Pertamina dicipoain.

Seorang pejabat Kementerian BUMN tidak bisa membantah ketika dikonfirmasikan kabar itu. Namun, ia lalu meneruskan, agak sulit menghentikan operasi semacam itu, karena menyangkut banyak pihak. Memangnya, kami bisa tahu tentang apa yang terjadi di laut? ujarnya.

Namun sang pejabat itu lantas meneruskan. Ia bilang, kendati sulit menangkap penyelundup, toh Pertamina sekarang sudah bisa menghentikan aksi kelompok lain yang tadinya terlihat begitu dominan.

Kelompok yang mana? Sayang, si pejabat itu tak mau memberikan penjelasan lebih. Namun, di kalangan pemain minyak tersiar kabar, bisnis Mohammad Reza, seorang importir, sedang agak sepi belakangan ini. Reza adalah pemilik dari Global Energy Resources, sebuah perusahaan trading yang berbasis di Singapura. Namun, di catatan otoritas Singapura, tidak tercatat nama Reza dalam deretan direksi perusahaan itu. Satu-satunya orang Indonesia yang ada di sana adalah Irawan Prakoso. Di luar itu ada Wong Fok Choy dan Frenandez Patrick Charles, keduanya orang Singapura.

Saham Global Energy dimiliki oleh lima perusahaan, yakni Supreme Energy, Orion Oil, Paramount Petro, Straits Oil, dan Cosmic Petroleum. Semua perusahaan pemegang saham Global Energy itu berbasis di negara mini, British Virgin Islands.

Lima perusahaan pemilik Global Energy itu acap berhubungan dengan Pertamina. Paramount dan Orion sering menjadi buyer green coke yang dipasok Pertamina. Lalu, Supreme adalah pemasok minyak mentah ke Petral. Syahdan, dulunya Global Energy sempat menjadi perantara Petral dengan perusahaan lain yang hendak membeli atau memasok minyak ke Pertamina.
Namun, Arie Soemarno membantah jika Global Energy sering menjadi perantara Petral dalam berhubungan dengan mitra bisnisnya. Untuk apa?âujar Arie. Toh, katanya, orang-orang Petral sudah kenal dengan semua pelaku bisnis minyak di dunia. Jadi, apa gunanya perantara? katanya.

Arie juga membantah Global Energy acap bertindak nakal dalam berbisnis. Menurut Arie, perusahaan itu adalah pemain besar dalam perdagangan emas hitam di Singapura. Jadi, Global Energy bukan bagian dari mafia minyak? Tentu saja bukan, kata Mohammad Reza tegas. Pengusaha berpenampilan dandy ini mengaku selalu menjalankan bisnis dengan bersih.

Masalahnya, kalau semua mengaku bersih ketika berbisnis, lantas siapa yang membuat Pertamina terus kebobolan selama ini? Siapa pula mafia minyak yang sudah digembar-gemborkan secara dahsyat oleh Laksamana Sukardi, Menteri Negara BUMN, dan Widya Purnama sejak sebulan silam itu?

Entahlah. Mungkin, kita masih harus menunggu lagi kelanjutan kisah ini. Toh, Widya sudah mengatakan, pembersihan dalam tubuh Pertamina sudah dijalankan sejak awal ia menduduki jabatan tertinggi di BUMN itu. Tunggu saja, sebentar lagi akan ada banyak kejutan, katanya.

BACA JUGA , Hatta Rajasa dan Misteri Mafia Minyak Singapore

http://www.majalahtrust.com/fokus/fokus/718.php


One response to “Saling Tuding Ala Mafia Di Lingkar PERTAMINA

  1. Pingback: Hatta Rajasa dan Misteri Mafia Minyak Singapore | Bpn16's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s