Perkembangan Pasukan Kavaleri Di Indonesia

Perkembangan Pasukan Kavaleri Di Indonesia

AMX13-VCI-TNI-AD

Setelah tercapainya Pengakuan Kedaulatan Negara Indonesia oleh Kerajaan Belanda di akhir tahun 1949, dilakukanlah konsolidasi kekuatan TNI (Tentara Nasional Indonesia) serta melakukan pembenahan-pembenahan organisasi. Hal paling krusial pada kurun waktu antara tahun 1949 hingga 1950 adalah masalah pengintegrasian personel TNI mantan pejuang dengan eks-KNIL dan Veld Politie dalam wadah Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS). APRIS sendiri terbentuk sebagai hasil kesepakatan dalam Perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda, yang mensahkan terbentuknya Republik Indonesia Serikat, yang merupakan penggabungan RI dengan negara-negara federal bentukan Belanda. Sebagai imbalan terbentuknya APRIS, dilaksanakanlah serangkaian hibah peralatan militer dari Belanda.
Salah satu penjabaran dari terbentuknya APRIS, adalah pembentukan satuan kavaleri Angkatan Darat dan Laut RIS (ADRIS/ALRIS). Khusus untuk satuan kavaleri ADRI, meski pucuk pimpinannya dari TNI, namun sebagian besar personel pengawak dan instruktur latihnya berasal dari mantan anggota satuan kavaleri KNIL, VET (Verkennings Eskadron Tank/Eskadron Tank Intai) dan VEP (Verkennings Eskadron Panserwagen/Eskadron Panser Intai). Adapun material kavaleri yang diterima TNI antara lain meliputi panser angkut personel ringan Bren Carrier, panser intai Humber Scout Car Mk. 1-3, M8 Greyhound, truk lapis baja M3A1 Scout Car, tank ringan M3A3 Stuart dan tank berat M4A3 Sherman. Kesatuan kavaleri ADRI terbentuk pada tanggal 9 Februari 1950 (yang kini diperingati sebagai Hari Kavaleri TNI AD) dan serah-terima peralatan kavaleri dilakukan pada tanggal 26 Juli 1950 di Ksatrian OCPT (Opledings Centrum Panser Troepen/Pusat Pendidikan Pasukan Panser) yang kini dikenal sebagai Pusdikkav TNI AD. Selanjutnya sejalan dengan penataan organisasi pada tahun 1959 berdirilah Pusat Kesenjataan Kavaleri TNI AD (Pussenkav). Di lingkungan ALRIS, proses hibah peralatan kavaleri juga dilakukan oleh Koninklijke Marine (Marinir Kerajaan) kepada Korps Komando ALRI (KKO AL). Hanya karena di lingkungan KM, tidak satupun ada personel pribumi, seluruhnya orang kulit putih warga negara Belanda, maka proses peleburan TNI-KNIL tidak terjadi di lingkungan satuan kavaleri KKO AL. Para personel pengawak KKO AL dilatih oleh “mantan musuhnya” di bawah payung program pelatihan Missie Militer Belanda (MMB). Material kavaleri KKO AL yang diterima dari KM meliputi kendaraan pendarat amfibi meriam LVTA (Landing Vehicle Tracked Armoured) 1 dan 4, LVTH (Landing Vehicle Tracked Howitzer), panser amfibi DUKW dan tank berat M4A3 Sherman yang dimodifikasi menjadi tank amfibi. Awalnya kesatuan kavaleri KKO AL masih kekuatan setingkat kompi, yaitu Kompi Tank dan Kompi Amphibious Tractor/Amtrac). Baru diresmikan menjadi Batalyon Tank Amfibi pada tanggal 17 Oktober 1961.

Walaupun masih dililit kehidupan serba kekurangan dan keterbatasan di bidang sumber-daya material serta manusia, kesatuan-kesatuan kavaleri TNI turut menyumbangkan dharma bhaktinya kepada Bumi Pertiwi tatkala Indonesia dilanda berbagai pemberontakan di dalam negeri antara tahun 1950 hingga 1960, mulai dari Pemberontakan Andi Aziz, APRA (Angkatan Perang Ratoe Adil), DI/TII, PRRI-Permesta dan RMS (Repoeblik Maloekoe Selatan). Diantara berbagai operasi keamanan dalam negeri yang digelar TNI, yang paling memberikan pelajaran berharga adalah operasi penumpasan Permesta (Perjoeangan Semesta) di Sulawesi dan PRRI (Pemerintahan Revoloesioner Repoeblik Indonesia) di Sumatera pada tahun 1957-1958. Disini, Indonesia memetik pelajaran berharga bahwa TNI harus memiliki persenjataan kavaleri yang sesuai dengan tuntutan jaman dan untuk itu harus dilakukan sejumlah pembelian material dari luar-negeri. Kesadaran akan hal tersebut kian mengeras ketika Indonesia mencanangkan Komando Trikora (Tri Komando Rakyat) Pembebasan Irian Barat akibat sikap ngotot Belanda yang ingin tetap bercokol di Irian Barat. Padahal dalam klausul di KMB, Belanda secara bertahap harus mengembalikan wilayah jajahannya kepada Indonesia, termasuk Irian Barat. Guna menandingi Belanda yang menggelar kekuatan militernya di Irian Barat, maka Indonesia bermaksud menggelar operasi militer berskala besar, yaitu Operasi Jayawijaya.

Dalam rangka persiapan operasi tersebut, Indonesia memboyong ratusan unit kendaraan tempur (ranpur) dari berbagai negara. Pada tahun 1960 TNI AD menerima ranpur beroda ban EBR/FL-11 Panhard dan tank ringan AMX-13 dari Perancis. Di tahun yang sama juga TNI AD kembali menerima ranpur anyar dari Inggris, yaitu Ferret Mk.2/3, VF 601 Saladin dan VF 602 Saracen. Namun Indonesia pengadaan lebih lanjut “kuda-perang” bagi satuan kavaleri mengalami ganjalan dari negara-negara Blok Barat (NATO dan Amerika), pasalnya yang akan dihadapi adalah anggota mereka yaitu Belanda. Kesulitan Indonesia kian bertambah ketika Komando Dwikora yang menentang proses dekolonisasi jajahan Inggris di Semenanjung Malaysia dan Kalimantan Utara dikumandangkan, sehingga memancing reaksi keras dari negara-negara Barat. Oleh karena itulah maka Indonesia mulai “melirik” negara-negara Blok Timur, seperti Pakta Warsawa dan Uni Soviet. Dari Uni Soviet, TNI AD menerima panser roda BTR 40P, BTR 152P, panser intai BRDM dan tank amfibi ringan PT-76. KKO AL menerima panser amfibi angkut personel BTR 50, panser intai BRDM, panser angkut serba-guna KAPA K-61 dan tank amfibi ringan PT-76.

Namun nasib suram kembali menimpa pasukan kavaleri TNI di akhir dekade 1960-an. Hal tersebut disebabkan adanya embargo persenjataan dan suku-cadangnya oleh Pakta Warsawa, Uni Soviet dan negara-negara pendukung komunisme. Embargo tersebut diterapkan setelah dilakukannya serangkaian operasi penumpasan terhadap Gerakan 30 September (G 30 S) yang dituding terlibat dalam sebuah “gerakan berdarah” pada tanggal 30 September 1965 dan mengakibatkan sejumlah perwira tinggi, menengah dan pertama TNI AD meninggal. Pasca meletusnya G 30 S, TNI-Polri kemudian menggelar sejumlah operasi penumpasan dan penangkapan terhadap para pendukung atau anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) yang diduga mendalangi “gerakan berdarah” tersebut. Tidak hanya itu, pemerintah dan parlemen kemudian menyatakan PKI sebagai partai terlarang dan “mengharamkan” tumbuh kembangnya ideologi komunis di seluruh wilayah Indonesia. Kebijakan itulah yang memancing reaksi keras dari negara-negara penganut dan pendukung ideologi komunis, sehingga akhirnya berujung pada embargo persenjataan. Meskipun dalam kondisi merana akibat embargo dan kesulitan keuangan, TNI tetap berupaya keras agar perangkat-perangkat satuan kavalerinya tetap siap beroperasi. Guna mengatasi keadaan demikian itu, dilakukanlah serangkaian pergantian komponen persenjataan, komunikasi dan mesin utama, pada kendaraan lapis baja eks Uni Soviet. Istilah kerennya “retrofit”.

Sementara itu di tengah-tengah kondisi ranpur TNI yang serba minim, Indonesia pada tahun 1975 kembali menggelar operasi militer berskala besar di daerah bekas jajahan Portugis, Timor Timur (kini bernama Republik Demokrasi Timor Leste), yaitu Operasi Seroja. Semua itu demi mencegah tidak berkembang-biaknya komunisme di Asia Tenggara. Memang sejak “ditinggalkan” oleh Portugis, Timor Timur atau yang kala itu masih bernama Timor Portugis, tengah dilanda pergolakan hebat antara Fretilin yang berideologi komunis dengan lawan-lawannya yang tidak sepaham. Kesatuan-kesatuan kavaleri TNI AD dan Korps Marinir TNI AL yang terpaksa masih menyadarkan kekuatannya pada ranpur-ranpur antiknya, seperti tank ringan M3A3 Stuart, AMX 13 dan PT-76, turut dilibatkan dalam Operasi Seroja.

Perkembangan diakhir dekade 1960-an dan awal 1970-an merupakan moment penting bagi eksistensi kesatuan-kesatuan kavaleri TNI-Polri. Kian akrabnya Indonesia dengan negara-negara Barat dan Amerika, mendorong terjadinya penambahan mesin-mesin perang bagi TNI-Polri. Amerika memasok satuan kavaleri TNI AD dengan panser angkut personel bersenjata jenis LAV (Light Armoured Vehicle) 150 Commando dan Commando Scout. Sementara itu, Batalyon Tank Amfibi Resimen Bantuan Tempur Korps Marinir TNI AL kebagian sejumlah ranpur amfibi ringan asal Perancis di dekade awal 1980-an, yaitu AMX-10P/PAC 90. Namun karena sejumlah kendala teknis, ranpur asal Perancis ini jarang dilibatkan dalam operasi militer, Korps Marinir lebih memilih PT-76 sebagai “kuda perangnya”. Memasuki dekade 1990-an TNI-Polri kembali menerima sejumlah ranpur baru dalam rangka memodernisasi kesatuan kavalerinya. TNI AD menerima panser roda ban jenis GIAT VAB, tank intai ringan jenis Scorpion 90 dan APC jenis Stormer dari Inggris, serta Panhard VBL dari Perancis. Sedangkan Polri menerima panser beroda empat jenis Tactica dari Inggris. Korps Marinir TNI AL menerima tank amfibi angkut personel yang juga berfungsi sebagai anti serangan udara jenis BVP-2 dari Slovakia dan panser amfibi angkut personel BTR 50P dari Ukraina.

Indonesia kembali mengalami kesulitan dalam hal pengadaan material dan suku-cadang baru bagi kesatuan kavalerinya, ketika Amerika dan Eropa Barat menerapkan embargo persenjataan menyusul pecahnya kerusuhan berdarah di Timor Timur pasca jajak pendapat tahun 1998. Jajak pendapat itu sendiri dimenangkan oleh kelompok pro-kemerdekaan Tim-Tim dan memancing reaksi keras dari kelompok pro-integrasi dengan NKRI. Akibat embargo tersebut kinerja satuan kavaleri TNI melorot drastis. Sejumlah ranpur bahkan mengalami penyusutan karena dilakukannya langkah kanibalisasi akibat kesulitan suku-cadang. Nasib satuan kavaleri TNI, terutama yang mengoperasikan tank Scorpion, kian menderita ketika Pemerintah Inggris memprotes pengoperasian produknya tersebut di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam selama berlangsung operasi militer terpadu menumpas GAM pada tahun 2003. Meskipun TNI kesulitan mendapatkan material dan suku-cadang baru dari Eropa Barat atau Amerika, namun upaya pengadaan untuk menutup kekurangan material kavaleri tetap dilakukan. Jika tidak berhasil mendapatkannya dari Eropa atau Amerika, Indonesia melirik negara produsen lain, seperti Republik Rusia, Afrika Selatan atau Korea Selatan, yang tidak menerapkan kebijakan embargo. Pada tahun 2002 Resimen Kavaleri Korps Marinir TNI AL menerima sejumlah panser beroda delapan jenis BTR-80A dari Rusia, lalu Satuan Gegana Korps Brigade Mobil Polri menerima panser jenis Barracuda dari Korea Selatan dan Satuan 81 Gultor Kopassus TNI AD menerima panser jenis Casspir Mk.3 dari Afrika Selatan.

Menuju Kemandirian

Di usia yang kini menginjak 60 tahun alias Tahun Berlian, TNI, sejak awal terbentuknya hingga sekarang, terus berupaya untuk menjadi kekuatan pertahanan negara yang mandiri. Belajar dari pengalaman selama ini jika mengandalkan pasokan dari negara lain, maka Indonesia tidak akan pernah dapat mandiri dan mudah didikte oleh bangsa lain. Seperti di masa lalu, ketika terjadi perubahan di dalam negeri yang tidak disukai oleh salah satu bangsa adi-kuasa maka dilakukan embargo persenjataan dan suku-cadangnya. Akibatnya kekuatan pertahanan negara dapat dikatakan nyaris lumpuh, karena sebagian material utamanya tidak dapat lagi berfungsi atau kehilangan fungsi asasinya. Atas dasar itulah maka TNI terus berupaya untuk menjadi kekuatan yang mandiri dalam arti ampu membangun, merawat dan mengembangkan material utamanya dengan tidak menggantungkan diri pada negara lain.

Untuk itulah maka TNI dan Departemen Pertahanan RI berupaya menjalin kerjasama dengan sejumlah kalangan akademik serta industri strategis di dalam negeri. Sehingga diharapkan pada akhirnya akan dapat mewujudkan kekuatan pertahanan yang 100 persen made in Indonesia. Bermodalkan pengalaman saat melakukan peremajaan ranpur TNI, beberapa institusi berhasil menciptakan beberapa produk unggulan walau masih terbatas ranpur beroda empat atau enam. PT Pindad mengawali kesuksesan dengan melansir panser angkut personel ringan APR-1 V1. APR-1 merupakan ranpur produk dalam negeri pertama yang dilibatkan dalam operasi militer terpadu di Aceh selama berlangsungnya Darurat Militer guna menggantikan tank Scorpion yang ditarik menyusul adanya protes dari Pemerintah Inggris. Selain itu, PT Pindad juga berhasil melansir panser taktis APR-2 V1 versi polisi yang akan memungkinkan untuk menjadi kendaraan pengamanan VVIP (Very-Very Important Person). Kesuksesan berlanjut dengan dilansirnya panser angkut personel jenis RPP-1 (Ranpur Pengangkut Personel) yang merupakan hasil kerjasama Balitbang Dephan, Bengpuspalad TNI AD dan Fakultas Tehnik Universitas Indonesia. RPP-1 merupakan hasil pengembangan dari BTR-40P retrofit yang dihibahkan TNI AD kepada Korps Brimob Polri. Sementara itu hasil kerjasama PT Pindad dengan BPPT berhasil menciptakan panser angkut personel sedang beroda enam jenis APS 6×6. TNI AD pun tidak mau kalah dengan menciptakan panser sendiri, yaitu Pakci (burung). Konon kabarnya ranpur berbobot 4 ton dan berkapasitas angkut 10 orang ini mampu menabrak hingga ambruk tembok setebal 20 cm tanpa tergores sedikitpun.

Walau di Tahun Berlian ini Indonesia baru mampu menghasilkan karya cipta mandiri bagi kesatuan kavalerinya berupa panser angkut personel beroda ban, namun semua ini dapat menjadi bukti keseriusan bangsa ini untuk menjadi “tuan rumah di negeri sendiri”. Embargo terhadap pasokan ranpur TNI-Polri selama ini merupakan pelajaran berharga agar Indonesia tidak lagi bergantung pada produksi negara lain, yang pada akhirnya bangsa ini akan kehilangan kedaulatannya. Hilang bukan melalui pendudukan atau penjajahan melainkan secara bertahap melalui penguasaan ekonomi berikut sumberdayanya serta menghilangkan kemampuan dalam mengambil keputusan sendiri. Semoga ke depan, TNI mampu menciptakan “kuda-kuda perang” sendiri yang lebih memiliki daya hancur dan kekuatan pemukul, seperti tank atau panser yang mampu mengangkut dan menembakkan peluru kendali berdaya jelajah tinggi. Jika kita menengok bagaimana industri strategis dalam negeri India mampu melansir tank sekelas MBT jenis Arjun, mungkin kita perlu belajar bagaimana memiliki kekuatan pertahanan negara yang mandiri dan tentunya “memiliki taring” untuk menghalau setiap tindakan yang mengancam kedaulatan bangsa dan negara Indonesia.

2 responses to “Perkembangan Pasukan Kavaleri Di Indonesia

  1. Pingback: SEENTHING™

  2. soekarnoismLEFT

    jalasveva jaya mahe !…semper fi marines !…hidup KKO/marinir !
    alutsista yang telah ada,nambah atau akan ditambah :
    *sumber WIKI
    1) AMX-10P marine/AMX-10 PAC90 (total 100 an unit ? operasional xxx unit ? saya berharap masih terawat dengan baik sayang kalo jadi “bangkai”)
    2)PT-96 (total 90 an unit, apakah semua telah diretrofit ?)
    3)BTR-50 (total 190 an unit, apakah semua telah diretrofit ? mudah2xan…harapan saya beberapa bisa dimodif menjadi mini MRL BM-14/17/NDL-40 atau SELF PROPELLED MORTAR carrier 120 mm )
    4)BVP-2 (total 40 an unit ? mohon amat sangat ditambah bertahap menjadi 80 an unit)
    5)BTR-80A (total 12 unit…sedikit amir mohon amat sangat ditambah bertahap menjadi 40 an unit, kalo perlu ada varian SHORAD/PSU nya pake misil IGLA/GREMLIN plus kanon 30 mm)
    6)RM-70 (total 7 unit SANGAT MINIM skalleee mohon amat sangat ditambah bertahap menjadi 20 an unit)
    7)BMP-3/F (total masing2x 20 dan 17 bertahap akan datang ?)
    8)pertimbangkan akusisi BM-27 URAGAN atau BM-30 SMERCH untuk DETTERENT EFFECT (200 km jarak tembak maksimal)
    9)RPG-29 VAMPIR untuk tank hunter killer teamnya KKO/marinir

    moga2x semua ini dapat terwujud secepatnya ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s